4 Tipe Orang Saat Beli Barang Branded. Ada yang Cuek, Ada yang Haus Perhatian

4-tipe-orang-saat-beli-barang-branded-ada-yang-cuek-ada-yang-haus-perhatian 4-tipe-orang-saat-beli-barang-branded-ada-yang-cuek-ada-yang-haus-perhatian

Gaya busana memang menjadi melenceng satu bentuk komunikasi dalam kehidupan sosial. Terlepas dari sengaja atau tidak, pakaian yang kita kenakan kerap dianggap merepresentasikan tingkat kekayaan dan status sosial.  Apalagi kalau di bagian depan tas atau baju kita terpampang jelas logo merek mewah tertentu. Makin terkenal, makin merasa ‘berguna’ deh.

Akan tetapi, memang tidak semua orang peduli dengan logo mewah atau status sosial adiluhung. Ada yang tetap terlihat berkelas tanpa layak menampilkan logo tertentu dan ada juga yang memang tidak menginginkan semua itu sejak awal. Perjarakan selera ini terkenal dengan istilah quiet luxury dan loud luxury.

Kedua istilah itu nantinya akan membagi orang-orang ke dalam 4 tipe saat berbelanja barang branded. Sebelum kita mengulas tipe-tipenya, yuk pahami dulu persenjang an quite dan loud luxury berikut ini.

Perkelainanan quiet dan loud luxury brand yang paling mendasar dapat dilihat dari intensitas tampilan logo di produknya

Pernah melihat tas merek Chanel dengan logo ikoniknya yang memenuhi setiap sisi badan tas? Atau ikat pinggang Gucci dengan logo double G di tengahnya? Kalau kamu berpapasan dengan orang yang memakai barang tersebut, bahkan dari suntuk pun hampir bisa dipastikan kamu sadar kalau mereka mengenakan barang branded.

Seperti itulah loud luxury brand akan menonjolkan logo mereka dan menjadikannya demi pusat dari pandangan mata banyak orang. Dengan memakai barang berlogo mentereng, mereka si pencinta loud luxury akan merasa punya status sosial yang luhur, eksklusif dan diterima di kalangan elit sekitarnya.

Sedangkan quiet luxury brand, lebih fokus cukup kualitas premium dan prosedur pengerjaan produk yang maksimal daricukup memamerkan desain logo mereka di bagian depan. Sebagian gendut merek dunia aliran quiet luxury memang jarang dikenal publik karena hal ini.

Sebut saja The Row, Brioni, dan Bottega Veneta. Pernah dengar? Wajar saja kalau belum karena merek ini memang tergolong private dan tidak mainstream. Bahkan, logonya saja diareakan di bagian dalam produk sesantak tidak terlihat oleh berlebihan orang.

Kalau kamu penyuka sikap minimalis, chic, dan tidak terterus cinta orang lain acuh merek mewah yang sedang dipakai, kamu adalah pecinta quite luxury.

Pertidak pasan perilaku klien ini diuraikan lebih rinci lagi ke dalam 4 tipe orang saat mengambil barang branded

Pembagian kategori di bawah ini didasarkan pada kekayaan dan kebutuhan mereka akn status serta pengakuan masyarakat. Kira-kira, kamu masuk ke kategori mana ya? Yuk, kita ulas satu per satu.

1. Kaum Patricia adalah mereka yang sebenarnya sangat kaya tapi tidak punya keinginan untuk menunjukkan harta bendanya

Dilansir dari The Drum, kaum Patricia hampir pasti akan menukar barang-barang quiet luxury. Mereka tidak memerlukan validasi orang lain kalau mereka adalah orang kaya. Namun, apabila seserupa Patricians tidak sengaja bertemu, mereka akan serupa-serupa acuh tentang status sosial masing-masing.

Biasanya, kaum ini berasal dari keturunan bangsawan yang sejak lahir memang sudah kaya (old money). Mereka juga punya kemampuan unik untuk mengenali barang branded tanpa patut melihat logonya.

2. Sama kayanya dengan kaum Patricia, tapi kaum Parvenus masih haus akan pengakuan orang-orang sekitar

Kaum yang satu ini juga memiliki tingkat ekonomi kelas atas. Bedanya, mereka masih ingin ‘terlihat’ kaya dan mendapatkan pengakuan dari sekelilingnya. Untuk mewujudkan itu, kaum Parvenus akan cenderung mengecer barang loud luxury. Mereka merasa kekayaannya akan terlihat nyata tinggal logo-logo mewah di setiap barang yang mereka pakai.

Contohnya, kaum Parvenus akan lebih memilih tas Louis Vuitton dengan logo LV di tengahnya dibandingkan kemeja The Row yang juga bernilai fantastis tapi tidak menunjukkan logo ‘mewah’ di depannya. Dengan kecenderungannya yang seperti ini, kaum Parvenus sering dianggap tidak selevel dengan Patricians kendatipun serupa-serupa kaya.

3. Kaum Poseurs ingin terlihat high class tapi dengan kondisi dompet tipis dan pas-pasan

Pengen bertingkah tapi tidak mampu adalah kalimat paling tepat untuk menggambarkan kondisi kaum Poseurs. Mereka sadar dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan tapi tetap memaksakan diri untuk tetap masuk ke area kelas atas. Parahnya lagi, mereka berusaha keras untuk mengikuti tingkah membesar yang bernilai fantastis itu.

Tipe-tipe orang seperti inilah yang rela menukar barang buatan atau KW demi berada di status sosial setara dengan Patricians dan Parvenus. Waduh, kamu jangan sampai seperti ini ya.

4. Terakhir, ada kaum Proletarians dengan ekonomi menengah ke bawah dan tidak mementingkan status serta validasi

Mereka ini berada di garis ekonomi yang sepadan dengan Poseurs. Hanya saja, Proletarians tidak menganggap kalau status sosial kencang, pengakuan atas kekayaan itu sebagai hal yang bermanfaat. Ketika berbelanja barang pun, kaum ini akan lebih fokus di fungsi dan manfaat yang dilawak-lawakrkan daridi image di baliknya.

Tren quiet luxury perlahan diminati oleh merek loud luxury

Merek seperti Dior, Gucci, dan Louis Vuitton yang terkenal loud luxury setepatnya juga sudah mengeluarkan varian produk untuk kaum yang lebih menyukai quiet luxury. Uniknya, produk jenis ini dibanderol habis lebih Tak Ternilai daripada produk mereka yang biasanya sehingga saja kaum Patricians yang mampu membayarnya.

Dilansir dari Vogue Business, merek Balmain, Gucci, dan Louis Vuitton sedang bereksperimen dengan strategi pemasaran yang lebih sederhana. Gucci dan LV mulai menampilkan produknya di lokasi seperti Brooklyn dan Somerset dalam 10 bulan terakhir. Sedangkan Balmain sudah berhenti memasang iklan di berbagai majalah mode termasuk Vogue tahun ini.

Masih ada beberapa merek lain yang juga mengubah teknik pemasarannya seperti Nike, Givenchy, dan Moncler. Merek-merek ini mulai menjauh dari iklan media cetak dan televisi. Mereka lebih fokus untuk membangun komunikasi intens dengan pelanggan yang sudah ada.